Langsung ke konten utama

Aku takut

Aku tipe orang yang jarang banget cerita panjang lebar ke orang lain ataupun sosmed tentang kesulitan dan ketakutan yang aku alami. Paling klo pun iya, aku update di Line dengan kata-kata tersirat dan lagi-lagi ketika sahabatku bertanya kenapa, aku selalu menjawab "ngga papa" dengan emot senyum yang sama sekali tidak mencerminkan diriku saat itu. Tapi entah kenapa, ketika aku ngeblog, semua bisa keluar dengan sendiri nya, semua kutuliskan disini dan aku lebih memilih menyembunyikan semua pos ku dari sahabat-sahabatku. Karena aku berpikir, aku ngga mau sahabat-sahabatku terbebani dengan masalah yang aku miliki. aku tau mereka juga memiliki masalah yang rumit pula, aku cuma ngga mau masalah ku membebani mereka. Memang ada beberapa yang marah padaku karna aku tak mau cerita, tapi aku tetep berusaha terdiam dan menghindar ketika aku ngga kuat lagi menahan air mata yang hampir menetes.

Sampai pada saat, ketika mereka tau aku mencoba untuk menghindar karna tidak kuat menahan air mataku yang hampir menetes, aku diikuti mereka ke kamar mandi, dan ketika aku keluar, mereka memelukku yang membuat air mataku semakin deras keluar. Aku coba menghindar, tapi ngga bisa.. mereka semakin erat memelukku. Seringkali, seorang kakak bilang kepadaku "sok kuat, akuin aja kalo emang lagi rapuh", kata-kata yang seperti menggebukku berulang kali. Tapi emang begini aku adanya, aku memang manusia yang selalu berusaha kuat menghadapi semua masalah ku sendiri. Akupun tau, kalo aku dikelilingi orang - orang yang bener - bener sayang padaku. Tapi, ya ini aku.. biarkan aku mencoba menghadapinya sendiri, sampai pada suatu saat aku mulai merasa ngga sanggup, aku pasti akan minta bantuan kalian. 

Saat ini, entah aku merasa dihantui oleh perasaan takut yang tak kunjung selesai. takut atas amanah-amanah yang dibebankan kepadaku dan yang telah aku ambil. Ingin rasanya punya seseorang yang dapat ku peluk ketika aku ingin menangis. Tanpa bertanya "kenapa?" membiarkan ku yang melepaskan sendiri pelukanku ketika aku mulai merasa puas menangis. Tapi lagi-lagi, rasa tak mau membebani sahabatku kembali menghantui ku membuatku enggan melakukannya. Dan lagi-lagi aku hanya menebarkan senyum palsu sehingga mereka ngga tau apa yang kurasakan. Padahal dalam hatiku yang terdalam ingin sekali aku memeluknya, ingiiiin sekaliii........



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tuhan mendatangkan kuatku bersama ujiannya

Setelah ku menemukan Dia ku, Tuhan baik sekali mencipta sosok penyemangat lain nya, dia skrg ada di perutku, sosok yg geraknya membuat perutku geli hihi, bentar lagi kita ketemu, hanya tinggal menghitung hari yeayyy!!  Selama bersamanya aku berfikir bahwa Tuhan mencipta kuatku bersama ujian nya, ya aku bisa dibilang berhasil menjaga nya sampai sejauh ini dengan sehat dan baik, walaupun perjalananku bersamanya cukup sulit, frekuensi tangisku lebih banyak, di masa inilah aku menemukan berbagai masalah yg tak kunjung usai mungkin hingga saat ini, tapi seperti yg aku bilang bahwa Tuhan mencipta kuatku bersama ujiannya, Tuhan ngga pernah salah memilihkan ujian hambanya, walaupun sedih sering menghampiri, aku rasa aku masih kuat menghadapinya karena kepercayaan itu, yg terpenting saat ini adalah kebahagiaan belahan jiwa diperutku dan pendamping hidupku yang merupakan salah satu berkah yg Tuhan berikan ditengah kesulitan ini bersama orang - orang yang membersamainya..  Sisanya, hanya...

Bohong

Aku lelah membohongi diri sendiri..  Aku lelah terus menerus berkhayal bisa hidup bersamamu suatu saat nanti..  Jujur, aku bisa saja minimal jujur tentang perasaanku, bukan padamu, tapi kepada temanku..  Tapi kembali lagi, perisai penahanku selalu melarangnya, "jangan! Dia blm tentu jadi milikmu, seperti setiap doa yang kau panjatkan pada Tuhan" Aku capek, capek sekali..  Bisa ga si Tuhan, kasih aku sesuatu petunjuk agar aku bisa yakin klo rasaku tak salah? Agar aku benar - benar yakin untuk memutuskan, bertahan atau menghilang.. 

Dia yang ku temukan dan juga menemukanku..

Akhirnyaa.. aku sampai pada titik ini, titik dimana aku menemukan kamu, kamu yang jelas dan terang, tanpa abu-abu dan rasa ragu seperti biasanya. Seseorang yang cukup tahan dengan ketidakjelasan sikap ku, seseorang yang untuk pertama kalinya aku merasa dibutuhkan dan disayangi, seseorang yang denganya aku tidak pernah segan menceritakan segala hal yang mengganggu pikiranku sejak lama, seseorang yang perlahan membuka kotak rahasia hidupku dan perlahan mengurai tumpukan rasa takut ku yang berjejal sejak lama dan dia gantikan dengan taburan harum kepercayaan dan rasa takut kehilangan Terima kasih, pada akhirnya aku percaya pada hal indah yang bernama cinta, hal yang memang harus ku pertahankan adanya sampai pada akhirnya kamu sendiri yang meminta aku untuk melepaskan atau dengan cara Tuhan