Langsung ke konten utama

Aneh

Dari dulu, aku ini tipe yang "one man show" parah, sampe berkali-kali dimarahin orang-orang klo udh mulai kumat. Kata Pskiater ku waktu itu, aku perfeksionis parah, gabisa percayaan sama orang lain, sampai kadang bisa nyiksa diri sendiri. Sifat ku yang seperti itu membuatku seperti tidak butuh siapapun untuk hadir, aku lebih percaya diriku sendiri yang mengerjakannya. Hfffttttt.. capek memang, tapi sepertinya dulu aku lebih bahagia sih, karna aku hanya mengandalkan diriku sendiri untuk bahagia, ga pernah mengandalkan orang lain. Semakin dewasa, perfeksionisku perlahan menghilang, aku seperti mudah bergantung, mudah berharap kepada orang lain, entah transisi hidup seperti apa yang membuatku seperti itu. Ku kira dengan mulai mengharapkan bantuan orang lain aku lebih mudah bahagia, lebih tenang, ternyata dugaanku salah, aku malah semakin sering nangis, menangis menyadari betapa bodohnya aku yang terlalu menggantungkan bahagiaku kepada orang lain. Aku benci diriku yang seperti ini, kalau waktu bisa diputar, ngga akan ku biarkan perfeksionisku memudar, ku pegang teguh sifat "one man show" ku itu, karna dengan begitu, aku hanya bisa mengandalkan diriku untuk bahagia, bukan orang lain seperti saat ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tuhan mendatangkan kuatku bersama ujiannya

Setelah ku menemukan Dia ku, Tuhan baik sekali mencipta sosok penyemangat lain nya, dia skrg ada di perutku, sosok yg geraknya membuat perutku geli hihi, bentar lagi kita ketemu, hanya tinggal menghitung hari yeayyy!!  Selama bersamanya aku berfikir bahwa Tuhan mencipta kuatku bersama ujian nya, ya aku bisa dibilang berhasil menjaga nya sampai sejauh ini dengan sehat dan baik, walaupun perjalananku bersamanya cukup sulit, frekuensi tangisku lebih banyak, di masa inilah aku menemukan berbagai masalah yg tak kunjung usai mungkin hingga saat ini, tapi seperti yg aku bilang bahwa Tuhan mencipta kuatku bersama ujiannya, Tuhan ngga pernah salah memilihkan ujian hambanya, walaupun sedih sering menghampiri, aku rasa aku masih kuat menghadapinya karena kepercayaan itu, yg terpenting saat ini adalah kebahagiaan belahan jiwa diperutku dan pendamping hidupku yang merupakan salah satu berkah yg Tuhan berikan ditengah kesulitan ini bersama orang - orang yang membersamainya..  Sisanya, hanya...

Bohong

Aku lelah membohongi diri sendiri..  Aku lelah terus menerus berkhayal bisa hidup bersamamu suatu saat nanti..  Jujur, aku bisa saja minimal jujur tentang perasaanku, bukan padamu, tapi kepada temanku..  Tapi kembali lagi, perisai penahanku selalu melarangnya, "jangan! Dia blm tentu jadi milikmu, seperti setiap doa yang kau panjatkan pada Tuhan" Aku capek, capek sekali..  Bisa ga si Tuhan, kasih aku sesuatu petunjuk agar aku bisa yakin klo rasaku tak salah? Agar aku benar - benar yakin untuk memutuskan, bertahan atau menghilang.. 

Dia yang ku temukan dan juga menemukanku..

Akhirnyaa.. aku sampai pada titik ini, titik dimana aku menemukan kamu, kamu yang jelas dan terang, tanpa abu-abu dan rasa ragu seperti biasanya. Seseorang yang cukup tahan dengan ketidakjelasan sikap ku, seseorang yang untuk pertama kalinya aku merasa dibutuhkan dan disayangi, seseorang yang denganya aku tidak pernah segan menceritakan segala hal yang mengganggu pikiranku sejak lama, seseorang yang perlahan membuka kotak rahasia hidupku dan perlahan mengurai tumpukan rasa takut ku yang berjejal sejak lama dan dia gantikan dengan taburan harum kepercayaan dan rasa takut kehilangan Terima kasih, pada akhirnya aku percaya pada hal indah yang bernama cinta, hal yang memang harus ku pertahankan adanya sampai pada akhirnya kamu sendiri yang meminta aku untuk melepaskan atau dengan cara Tuhan